Salah satu anak baru di dunia perkulineran Binjai adalah Waroeng Was Was, baru buka sekitar 1-2 bulan lalu. Berlokasi di Jl. Kartini No.22 Binjai dengan bangunan sendiri (bukan model ruko) ber-eksterior bambu menegaskan kesan Indonesian food-nya.

Ruangan yang luas, berbagai pilihan tempat duduk tersedia disini. Dari kursi panjang, kursi satuan sampai lesehan juga ada. Pelayan disini sangat ramah (semoga senantiasa konsisten) dan cukup menguasai produk yang mereka tawarkan. Mungkin suasana akan lebih kental lagi apabila ditambah dengan iringan lagu ala Bali gitu biar mellow.

Interior Warung Was Was Binjai

Tiba di lokasi, sesaat setelah duduk di lesehan, mata langsung tertuju pada spanduk gede dibelakang kasir bertuliskan kalimat galau yang nggak nyambung dengan tempat makannya.

Panorama Interior Warung Was Was Binjai

Panorama tempat makan.

Menunggu pesanan datang, sambil menonton pertandingan tinju akbar Mayweather dan Pacquiao, yang akhirnya dimenangkan oleh Mayweather, banyak pihak pro dan kontra pendapatnya akan keputusan tersebut.

Kalau saya secara personal sih lebih mendukung Pacman, secara beliau dari Filipina, sama-sama negara Asia Tenggara, disamping itu beliau juga lebih humble dibanding Mayweather yang terkesan arogan.

Dan lagi………. ah makan dulu!

Tahu:Tempe Goreng Warung Was Was Binjai

Pertama kali ketemu Tahu Tempe Goreng (Rp 5.000) yang unik gini, pake topping keju pula. Rasanya biasa saja, tahunya malah terasa agak asem-asem seperti nggak segar lagi.

Sambal Granat & Pedas Bengis Warung Was Was Binjai

Sambal Granat (kiri) dan Sambal Pedas Bengis (kanan). Sambal granat merupakan sambal favorit kami, rasanya asin asin pedas gitu, kalau sambal pedas bengis lebih enak dicampur dengan kecap manis. Buat penyuka pedas, pasti terpuaskan.

Bagi yang nggak begitu tahan pedas, kami sarankan dua jenis sambal tersebut ditambahkan kecap manis.

Sambal Bakso Warung Was Was Binjai

Kemudian, Sambal Bakso (Rp 8.000), baksonya biasa saja namun bumbu sambalnya enak.

Sambal Ati Rempelo Warung Was Was Binjai

Walaupun terasa agak kenyal dan alot, namun Sambal Ati Rempelo (Rp 8.000) ini enak juga, bumbu sambalnya lebih kurang hampir mirip dengan yang sambal bakso.

Masih ada 1 jenis sambal lagi yang kami pesan, namun nantikan saja ya, kata orang kan save the best for the last…

Belut Goreng Crispy Warung Was Was Binjai

Belut Goreng Crispy (Rp 15.000) ini tidak begitu enak, masaknya terlalu kering bahkan jadi terasa agak keras. Sangking keringnya, tekstur belutnya jadi nggak terasa, aroma juga lebih dominan tepungnya.

Jamur Crispy Warung Was Was Binjai

Yang ini adalah Jamur Crispy (Rp 8.000), cukup nikmat kalau dicocol dengan sambal cabe kecapnya. Oh ya, sambal cabe kecap disini juga enak loh, boleh dibilang tempat makan satu ini cukup mahir dalam mengolah bumbu-bumbu cabenya.

Ayam Bakar Warung Was Was Binjai

Belum puas dengan yang diatas, kami order lagi Ayam Bakar (Rp 11.000), Dagingnya lembut dan bumbunya enak tuh. Namun ada teman saya order yang bagian dada, katanya sih terasa agak alot.

Mungkin karena bagian dada lebih tebal, jadi harus dibakar lebih lama.

Sambal Dendeng Sapi Warung Was Was Binjai

Nah, dari semua makanan diatas, ini juaranya… Sambal Dendeng Sapi (Rp 15.000), harganya relatif murah, dagingnya lembut banget dan rasanya nggak usah dipertanyakan lagi, tiba disini langsung order ini dulu! 😀

Overall kami cukup menikmati hidangan makanan disini, suasana juga oke untuk santai bersama teman dan keluarga dan seperti yang saya bilang diawal, kalau diputerin lagu lagu mellow khas Jawa atau Bali gitu, mungkin terasa lebih nyaman lagi.

Dan kami pun pulang dengan perasaan MMM, Murah meriah munnn… eh, muakkknyus!

Share your thought: