Beberapa waktu belakangan ini, warga Medan sedikit disibukkan dalam kegiatan penyambutan datangnya resto dan tempat makan baru, yang sebagian besar didominasi oleh kafe-kafe yang makin lama makin sengit melakukan ‘pertarungan’ dari segi tampilan desain baik eksterior maupun interior yang lumayan menguras dana IMF juga. Selain kafe, beberapa tempat juga di-invasi oleh resto-resto franchise.

Nah, nggak mau ketinggalan, Medan Center Point juga menghadirkan jawara terbaru mereka, tempat makan dengan konsep foodcourt, Eat and Eat.

Sebenarnya saya sedikit heran kenapa foodcourt di Medan agak susah bertahan (baca: kurang peminat), saya perhatikan foodcourt di negara tetangga malah ramai sekali. Faktor harga kah? Atau prestise?

Foodcourt di Sun Plaza, Cabe Rawit, juga sudah tinggal kenangan karena sudah direnovasi total menjadi nuansa tempat makan yang baru. Langkah yang sangat tepat dilakukan oleh manajemen, karena daerah sana sekarang menjadi sangat tinggi traffic-nya.

Sedangkan di Thamrin Plaza, terdapat foodcourt D’Loft yang saya nggak bisa beri komentar karena sampai saat ini saya hanya mampir 2 kali. Namun terkadang saya nggak jadi mampir karena faktor lokasi yang agak mojok, walaupun dapat menikmati pemandangan kota Medan.

IMG_1697IMG_1692

Setelah berkeliling seleksi pilihan, karena beberapa kuliner lokal sudah sering dicoba, maka sekali-kali pengen coba yang dari kota lain. Pilihan tertuju pada Nasi Bakar Bu Dewo, dengan pilihan menu paket Nasi Bakar Bumbu Rujak + Sate Banjar (Rp 55.000).

Setelah menunggu beberapa saat di tempat duduk, berhubung saat itu suasana sangat sangat sepi, hanya 3 meja doank terisi, jadi saya memilih untuk menunggu di meja saya saja, kalau rame mah harus baik-baik antri juga.

Saya sedikit shock dengan apa yang saya lihat, ini nasi bakar atau nasi apa? Saya lagi makan di warteg atau didalam mall sih? Nasi bakar yang lupa dibakar, ini mah nasi putih biasa doank. Sayur, terong, tahu semua dingin! Daging ayam yang juga jauh dari standard.

Ditambah lagi Sate Banjar yang dingin juga, dengan bumbu nggak meresap, saya rasa warung yang satu ini terkesan asal-asalan.

IMG_1699

Lupakan pengalaman pahit pertama, saya pun berharap yang lebih baik dari Bakmi Kepiting ini, saya memesan Mie Gede Kepiting (Rp 43.000). Dari presentasi fotografi yang terlihat, saya rasa rasanya nggak bakal mengecewakan.

Okay, soal presentasi di atas meja, yang satu ini agak mendingan dari sebelumnya, paling nggak saya merasa dihormati dengan tampilan yang rapi, walaupun ukuran ‘cimkong’-nya (capit kepiting) agak kecil dari tampilan foto (yang menurut saya merupakan kasus awam, godaan fotografi).

Lanjut ke bagian rasa, irisan daging ayamnya cukup meresap, sayangnya udang dan capit kepitingnya (lagi-lagi) terasa dingin!

IMG_1690

Kemudian memesan Es Kacang Singapore (Rp 25.000) dan segelas Teh Manis Hangat (Rp 6.000).

Sebenarnya saya sudah ingin berhenti mengomel, but yes, this is the worst Ice Kacang that I ever tasted.

Saya tidak mau banyak berkomentar mengenai harga, karena mahal ataupun murah adalah relatif, seperti pernah ada yang berkomentar, ‘wajar lah, namanya juga buka di mall, sewanya mahal’. Ya, kami-kami yang ingin berkunjung kesana, juga sebenarnya nggak terlalu memperhatikan harga lagi, kami sudah memberi toleransi soal harga.

Namun, kalau citarasa yang disajikan seperti itu, maaf saja, jauh dari standard yang harus ditawarkan dan jauhhh banget dari yang kami harapkan. Dengan harga seperti itu, masih banyak yang lebih nikmat untuk dicicipi.

Share your thought: