Siapa yang tidak pernah mendengar AirAsia? Maskapai yang dibangun oleh Dato’ Sri Tony Fernandes, CBE ini menyabet gelar World’s Best Low-Cost Airline dari Skytrax sejak tahun 2009 s/d 2014, sudah 6 tahun berturut-turut! Maskapai ini juga populer dengan tagline ‘now everyone can fly’.

2009.

Begitu pula dengan saya, sudah 6 tahun juga saya menggunakan jasa AirAsia. Pertama kali menggunakan jasa AirAsia pada tahun 2009, masa ababil liburan dengan teman-teman ke Jakarta dan Yogyakarta, ababil banget sampai terus dinasehatin sebelum pergi, maklum pada saat itu baru tamat SMA kan masih lugu-lugunya, takut kami diculik mungkin. Dari jauh-jauh hari sudah diingatin jangan ini jangan itu, salah satunya yang paling saya ingat, ‘Jangan lupa cuci kolormu nak, kelamaan nanti jamuran loh!’ -_-

IMG_4414

Tugu Monas

Waduh! 2 minggu sebelum ke Jakarta, kami dikejutkan oleh berita pengeboman di Mega Kuningan. Tapi kami tidak mau mengecewakan warga Jakarta seperti yang telah dilakukan Manchester United, the show must go on.

IMG_2976

Pantai Parangtritis

DSC_6059

Candi Borobudur

Dari Jakarta kami berangkat ke Yogyakarta, mengunjungi Pantai Parangtritis, Candi Borobudur, Keraton, Alun-alun dan berbagai tempat lainnya. Akhirnya bisa mengunjungi salah satu keajaiban dunia, Candi Borobudur dan minum teh tawar termahal yang pernah saya cicipi, Rp 15.000, di Keraton.

Selain itu kami juga ada mampir ke Solo, dan baru sadar ternyata saat itu Pak Jokowi yang menjadi Walikotanya. Permisi numpang lewat ya pak, maaf hari itu nggak sempet mampir.. 😀

2010.

DSC_0154

Ehm….

DSC_0047

Pantai Dreamland

Kembali menggunakan jasa AirAsia, saya dan teman-teman mendapat kesempatan untuk mendaratkan kaki di pulau impian kami, pulau dewataaaaa. Tidak lupa saya cium berkali-kali tanah Bali sesaat setelah turun dari pesawat.

IMG_2668

Tangkuban Perahu

Setelah berpanas-panasan di Bali, kami relax bentar menikmati kesejukan Kota Bandung sebelum pulang ke rumah masing-masing membawa oleh-oleh kulit terbakar, semoga orang tua saya masih bisa mengenali saya.

2011.

Pulau Redang

Pulau Redang

Redang's Souvenirs

Redang’s Souvenirs

Akibat dari nonton film “Summer Holiday” pada saat SMP dulu, akhirnya terbayarkan juga impian ke Pulau Redang, dapat berlari-lari di tepi pantai seperti Richie Ren.

Welcome to Pulau Pangkor

Welcome to Pulau Pangkor

Pangkor Island Resort

Pangkor Island Resort

Pulang dari Redang, beberapa bulan kemudian saya melanjutkan petualangan ke Pulau Pangkor. Gak jelas ini pulau apaan, diajak teman kesana, nggak begitu jauh, bisa kesana melalui Penang atau Kuala Lumpur, jadi coba pigi deh. Tanya informasi di travel Medan, malah ditanya balek, “Pangkor? Angkor Wat ya?”.

Saya sih sudah menulis surat wasiat ke abang saya, tolong bantu jaga baik-baik klub sepakbola saya di Football Manager. Eh,  apes abang saya nggak jadi dapat warisan, ternyata kami masih bisa kembali dengan selamat, awalnya sih kirain bakal seperti “Shutter Island”, tapi ternyata Pangkor itu indahhh….

2012.

Angkor Golf Resort

Angkor Golf Resort

DSC_0210

Ta Phrom, Cambodia.

Nah kali ini nggak salah lagi, saya mengunjungi Kamboja via Bangkok untuk mampir ke Angkor Wat. Kami ada juga ke Pattaya, nggak pakai jasa AirAsia, karena kita kesana pake bus.

DSC_0837

W Hotel

DSC_0799

Potato Head

Pertengahan tahun 2012. Bali, I’m Backkk!

Nggak tau kenapa, Bali selalu dapat membuat saya pengen kembali lagi. Budayanya, tempat wisatanya dan pasti kulinernya. Dari 10 orang yang saya tanyakan kesan tentang Bali, 9 orang menjawab “Asikkkkk donk, pengen ke Bali lagi….”, dan 1 orang itu adalah kakak saya, beliau memang unik.

2013.

Maya Beach

Maya Beach

James Bond Island

James Bond Island

Setelah liburan terisi dengan suasana pantai sejak tahun 2009, lagi-lagi tahun 2013 ini kami pergi ke pantai. Selain pantai itu eksotis, pengunjung didalam pantai itu nggak kalah eksotisss, pastinya itu menjadi salah satu alasan utama saya menyukai pantai.

Bang the Cock!

Chocolate Ville

Chocolate Ville

Hello, Tom Yum Goong!

Pertengahan tahun 2013 ini diisi dengan short trip ke Bangkok lagi. Selain kuliner-nya, saya sudah mulai bosan dengan Bangkok. 😀

2014.

Pudong Skyline, Shanghai.

Pudong Skyline, Shanghai.

Maret 2014, saya sedikit ragu ketika ingin menggunakan jasa AirAsia untuk perjalanan jauh. Sampai saat itu, perjalanan paling jauh dengan AirAsia adalah waktu ke Bali via Kuala Lumpur, 3 jammm!! Kaki kram, pantat kebas, pinggang kakuuuu….

Ternyata, AirAsia X menepis semua pikiran negatif saya, perjalanan 5 jam dapat saya lewati dengan nyaman, yahhh nggak senyaman dibanding maskapai lain yang lebih mahal pastinya. Bermodalkan tiket promo 2.100.000 per orang pulang pergi Kuala Lumpur ke Shanghai, I could complain no more.

Bromo

Bromo

Pertengahan tahun 2014, saya ke Bromo melalui Surabaya, penerbangan dari Medan ke Surabaya menggunakan Garuda Indonesia, karena AirAsia sudah berhenti ber-operasi, nah jadi bukan saya yang selingkuh loh. 😀

Pesawat Bombardier CRJ 1000 dari Garuda Indonesia ini sangat menyesakkan. Saya sudah sedikit ragu ketika menggunakan bus menuju pesawat, kemudian saat mau naik pesawat, koper cabin-size saya juga tidak diizinkan naik, harus ditaruh di bagasi, muka saya pun mulai pucat.

Naik ke pesawat, kepala sudah hampir menyentuh atap pesawat, pantesan koper saya nggak boleh naik, tempat duduk 2 orang dan sempit! Saya duduk dengan orang disebelah harus saling beradu siku, sampai beliau menyerah pindah ke kursi agak belakang yang tidak ada penumpangnya.

Flinder Station, Melbourne.

Flinder Station, Melbourne.

Brighton Beach, Melbourne.

Brighton Beach, Melbourne.

Great Ocean Road, Twelve Apostles, Melbourne.

Great Ocean Road, Twelve Apostles, Melbourne.

Setelah memiliki pengalaman penerbangan 5 jam, kali ini saya harus mencoba perjalanan 8 jam ke Melbourne, bagi saya yang agak susah tertidur di pesawat, ini adalah malapetaka. Saat tidur, saya dapat dengan mudah terbangun dikarenakan wangi parfum pramugari bunyi ‘tinong’ ditengah perjalanan, biasanya akan disusul dengan suara, “Perhatian, blablabla, ada turbulensi, disarankan tahan kencing dan be’ol anda terlebih dahulu yah”

Bondi Beach, Sydney.

Bondi Beach, Sydney.

Lincoln's Rock, Blue Mountain.

Lincoln’s Rock, Blue Mountain, Sydney.

Opera House & Sydney Harbour Bridge, Sydney.

Opera House & Sydney Harbour Bridge, Sydney.

Queen Victoria Building, Sydney.

Queen Victoria Building, Sydney.

Taronga Zoo, Sydney.

Taronga Zoo, Sydney.

Lincoln's Rock, Blue Mountain, Sydney.

Lincoln’s Rock, Blue Mountain, Sydney.

Dari Melbourne ke Sydney saya menggunakan Jetstar karena AirAsia tidak beroperasi disana. Saya kembali menggunakan jasa AirAsia dari Sydney kembali ke Medan via Kuala Lumpur, semua berjalan lancar dan tepat waktu.

Diluar AirAsia sering memberi promo yang lumayan menggoda, mungkin juga karena saya sudah terbiasa dengan AirAsia, selain perjalanan liburan yang saya sebutkan diatas, beberapa kali juga saya pernah menggunakan jasa AirAsia ketika medical check-up ke Penang. Jadi boleh dibilang, ketika saya ingin bepergian, maskapai pertama yang terlintas di benak saya adalah AirAsia.

Saya cukup puas dengan pelayanan AirAsia selama ini, permintaan bantuan saya melalui twitter dan kantor AirAsia juga dilayani dengan baik. Selama menggunakan AirAsia, saya hanya pernah sekali mengalami delay saat liburan pertengahan tahun 2013 dari Bangkok menuju Medan, selebihnya aman-aman saja.

—- end of the story? Belum!

AirAsia 90%

Jadi mungkin ada yang bertanya, dari segala kenyamanan yang saya dapatkan, apa maksud dari ‘AirAsia 90%’? Good question, jadi sebelum anda bertanya, saya memberi jawaban terlebih dahulu.

Ya, kekecewaan saya bermula dari penerbangan ke Melbourne via Kuala Lumpur, saya membeli penerbangan connecting flight. Sengaja saya membeli waktu rentang lumayan jauh, Medan ke Kuala Lumpur pukul 17.25 WIB, berlanjut Kuala Lumpur ke Melbourne pukul 22.30 waktu Malaysia.

Pesawat dengan nomor penerbangan AK392 pada tanggal 16 Oktober 2014 dari Medan menuju Kuala Lumpur yang harusnya berangkat pukul 17.25 WIB mengalami delay sampai boarding pukul 19.30 WIB, dan efektif melakukan penerbangan sekitar pukul 20.00 WIB (delay lebih dari 2 jam), yang berarti akan tiba pukul 21.55 waktu Malaysia, ditambah proses antrian keluar pesawat membuat waktu sangat sangat sempit, buang air kecil saja nggak sempat lagi, tiba di KLIA2 langsung disambut petugas yang mengantar kami ke pesawat.

Hati sedikit lega karena dapat terkejar pesawatnya, tidak harus menghabiskan 1 malam di Kuala Lumpur untuk menunggu penerbangan besok. Sekedar info, teman saya mengingatkan saya untuk berhati-hati mengenai bagasi pada connecting flight, soalnya teman tersebut baru pulang dari Hongkong dan bagasi mereka tertinggal, beberapa teman yang lain juga bilang kalau AirAsia sering seperti ini ketika menghadapi connecting flight. Apa benar begitu, AirAsia?

Oke lah, cuekin dulu, nggak mau dipikirin. Akhirnya, tiba di Melbourne pukul 09.30 pagi waktu setempat, setelah agak kurang tidur, saya harus melalui proses imigrasi yang puannnnjang. Eh, habis itu paspor saya ditahan lagi, takut kena deportasi pula! Setelah ngecek sana-sini, telepon sana-sini, akhirnya saya diizinkan lewat dan sambil menunggu bagasi, saya jadi teringat kembali ucapan teman-teman saya.

Keliling kesana-kemari, tanya petugas, mondar-mandir, aduh belum ketemu bagasi saya, sepertinya yang saya takutkan benar-benar terjadi, bagasi saya ketinggalan! Lapor petugas, diberi surat, disuruh pulang dulu, keluar dari airport pukul 12 lewat, badan sudah lemas, jadi mengambil inisiatif makan siang dulu, walaupun nafsu makan sudah gak ada. Haisshhh, selamat deh! Tiba di Melbourne tanpa membawa apa-apa, jaket didalam koper pula.

Setibanya di apartment yang saya pesan melalui Airbnb.com, saya meminta bantuan pemilik apartment untuk membantu melapor kembali keadaan bagasi saya. Belum ada kabar semalaman, jadi besoknya saya mencoba telepon ke AirAsia Australia, herannya ketika saya meminta bantuan AirAsia Australia untuk membantu konfirmasi, mereka tidak bisa memberi jawaban, mereka menyarankan kami untuk telepon ke AirAsia Malaysia, apa-apaan ini? Kami ini turis, lagi liburan, mau telepon internasional lagi? Kenapa nggak bisa dibantu prosesnya? Padahal sesama perusahaan harusnya mereka terkoneksi.

Setelah itu saya teringat ada beli AirAsia Insurance. Berdasarkan informasi dari web AirAsia, saya dapat mengajukan klaim via https://claims.tuneinsure.com/default.aspx dengan memasukan Booking Number & Insurance Policy Number, namun setelah saya lengkapi, eh dibalas ‘hanya dapat melayani penerbangan dari Malaysia’.

Ok fine, jadi pulang Medan baru saya klaim untuk mempermudah komunikasi, telepon Call Centre AirAsia pada tanggal 28 Oktober 2014 sekitar pukul 6 sore dengan Customer Service bernama “ECI”, saya dikonfirmasi bahwa “Pesawat tidak mengalami delay pada tanggal tersebut, pesawat terbang tepat waktu, bla bla bla bla”, sambil tahan napas saya coba bertanya, “Sudah yakin data komputernya?”, dengan ragu beliau menjawab akan di cek dan membuat laporan terlebih dahulu. Ketika saya menanyakan mengenai bagasi tertinggal saya, saya disarankan melalui ONLINE CLAIM (sudah saya lakukan dan mendapat jawaban diatas) via website karena itu berhubungan dengan AirAsia Malaysia, yang Indonesia nggak ada wewenang. WHAT !?

Besoknya, tanggal 29 Oktober 2014, sekitar pukul 4 sore saya mendatangi kantor AirAsia di Airport Railink Service Medan, dilayani oleh CS pria yang saya nggak tau namanya karena beliau tidak memakai badge nama, saya melaporkan keluhan saya, LAGI-LAGI dijawab pesawat tidak mengalami delay, berangkat tepat waktu. Saya bertanya dengan pelan, “Apakah anda sudah yakin? Perusahaan sebesar AirAsia data komputernya bisa tidak tepat seperti itu?”, kemudian ntah mendapat pencerahan dari mana, tiba-tiba saja beliau menjawab “Oh iya, pesawat boarding pukul 19.30 WIB”, dan ketika saya menanyakan mengenai klaim bagasi, saya mendapat jawaban yang sama lagi, disuruh untuk melapor via online, saya beri tahu bahwa saya tidak bisa klaim via online karena hanya menerima penerbangan dari Malaysia, beliau kemudian menyarankan via LiveChat, yang pernah saya coba keesokan harinya, dan saya harus menunggu antrian ke 30an, dan setelah menunggu lama, tiba-tiba halaman livechat bisa error, yang berarti saya harus ulang menunggu lagi! WHAT !?

Jadi saya memilih menggunakan e-form (http://www.airasia.com/id/id/e-form.page), yang saya laporkan sejak tanggal 4 November 2014, dengan kode laporan CAS-9425941-76VL1G. Namun sampai detik ini, tanggal 11 November 2014, saya belum mendapat balasan serta konfirmasi apapun, saya hanya dapat sabar menanti… 🙂

Update 🙂

Setelah agak kesulitan melakukan komplain melalui Call Centre dan Kantor AirAsia, saya mengambil inisiatif untuk komplain melalui twitter @AskAirAsia, dan mendapat respon cukup positif. Akhirnya pada tanggal 23 November 2014, saya telah mendapat surat laporan konfirmasi pesawat yang delay tersebut.

Lalu pada 27 November 2014, saya mendapat konfirmasi laporan keterlambatan bagasi saya. Lengkap sudah data yang diperlukan, lalu saya di-alih-kan ke PT. Asuransi Dayin Mitra Tbk untuk perihal klaim asuransi tersebut. Data saya kirim ke pihak Dayin Mitra pada tanggal 8 Desember 2014, dan sedang menunggu kabar baik dari mereka…

Screen Shot 2014-12-24 at 21.28.39

Akhirnya pada tanggal 15 Desember, pihak PT. Asuransi Dayin Mitra sudah memberi saya konfirmasi.

Screen Shot 2014-12-24 at 21.10.49

Yuhuuuu… Tanggal 23 Desember 2014 sudah settle semua case.

Terima kasih AirAsia atas kerjasama-nya, akhirnya saya bisa merasakan “AirAsia 100%” kembali. 🙂 Dan tidak lupa saya mengucapkan terima kasih juga kepada pihak Asuransi Dayin Mitra.

Share your thought: